Belajar Strategi Fundrising Melalui IT, NU Care Lawang Kunjungi LAZIS Sabilillah

Share on whatsapp
Share on telegram
Share on facebook
Share on twitter

MALANG – Mendapat penghargaan sebagai UPZis LAZISNU terbaik se-Kabupaten Malang, tidak lantas membuat LAZISNU Kecamatan Lawang merasa tinggi diri. Justru, pihaknya ingin terus belajar dan mengasah pengelolaan Lembaga zakat agar lebih professional. Karena itu, UPZis LAZISNU NU Care Lawang berkunjung ke kantor LAZIS Sabilillah untuk mendapatkan ilmu lebih tentang manajemen Pengelolaan Zakat Infaq dan Shodaqoh pada Sabtu (23/10/2021)

Bersama 12 pengurus aktif, pihaknya datang belajar tentang strategi penghimpunan donasi zakat, infaq dan shodaqoh terutama dalam strategi marketing melalui media sosial dan website IT. “Fokus belajar kita lebih pada penghimpunan melalui IT, karena selama ini kita menggunakan cara konvensional yakni dengan kaleng NU. Jika kita kuat di media, penghimpunan kita akan meluas sampai keluar Kecamatan Lawang,” tutur Abdul Chodir (AQJ) Ketua LAZISNU Kecamatan Lawang.

LAZISNU Kecamatan Lawang masih punya satu program yaitu tentang koin NU dari kaleng NU Care. Per hari ini sudah tersebar 900 kaleng koin NU dan terakhir Update kami bisa menyerap Rp 200 juta,” terang AQJ panggilanya. Itupun di kumpulkan dari 38 Unit JPZis Ranting yang ada.

Di sisi lain, strategi pendekatan kepada donator juga menjadi materi yang didapatkan. LAZIS Sabilillah dengan penghimpunan mencapai 150 juta per/bulan tidak lain karena adanya donatur tetap. Adanya donator tetap, berarti ada kepercayaan yang tinggi kepada LAZIS Sabilillah. Karena itu, cara berhadapan dengan donator menjadi ilmu yang berharga. “Pendataan para Aghniya’ dan orang dermawan akan menjadi focus kita setelah berkunjung ke Lembaga zakat ini,” pungkasnya.

Ust Sulaiman selaku manajer LAZIS Sabilillah mengungkapkan, Menjadi Lembaga Zakat yang professional memang perlu konsistensi waktu yang cukup lama dan tidak instan. Karenanya, dengan adanya LAZISNU di tingkat kecamatan dinilai sebuah progrsifitas yang perlu diapresiasi.
“Kami harap nantinya tetap ada komunikasi. Kami akan terus membuka pintu kepada mereka yang ingin belajar. Meskipun kami masih banyak kekurangan setidaknya dengan berbagi ilmu menjadi wasilah Lembaga untuk lebih bermanfaat kepada masyarakat luas,” terang Ust Sulaiman.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *