
LAZIS Sabilillah – Bulan Agustus menjadi momen bagi masyarakat untuk merayakan kemerdekaan Republik Indonesia. Ada yang melalui lomba, pentas seni, upacara hingga ziarah ke makam para pahlawan. Seperti halnya yang dilakukan Forum TPQ Yayasan Sabilillah (FORTYS) dan Forum Imam dan Takmir Musholla LAZIS Sabilillah.
Pada Ahad (14/8) sebanyak 150 guru TPQ dan Imam Musholla secara rombongan berziarah ke makam K.H. Hasyim As’ari serta K.H. Wahid Hasyim yang terletak di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Cukir, Jombang. Keduanya dikenal sebagai pahlawan yang memperjuangkan kemedekaan Indonesia pada zaman penjajahan kala itu.
Selain itu, yang menjadi magnet peziarah ialah makam K.H. Abdurahman Wahid atau dikenal Gus Dur. Jumlah pengunjung makam Gus Dur seolah tak bisa dihitung dengan mata. Saking banyaknya, peziarah berjubel hingga lesehan di beberapa sudut makam.
Sesampainya di komplek makam, peziarah di sambut dengan bangunan museum ikonik dengan tugu asmaul husna di depannya. Di Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari terdapat beragam catatan yang menjelaskan bagaimana Islam masuk ke Indonesia dan kemudian bercampur dengan budaya setempat. Arsitektur yang unik tersebut menjadi spot favorit peziarah untuk foto bersama.

Setiba di makam, para guru TPQ dan Imam Musholla melantunkan doa di depan makam kedua tokoh tersebut. Namun, mereka harus bersabar untuk mencari tempat duduk, karena ribuan jamaah yang silih berganti datang untuk berziarah ke makam tersebut. Meski demikian, para peziarah nampak khusuk melantunkan dzikir dan doa.

“Dengan berziarah kita mencari keberkahan dari makam wali tersebut. Sebab, kita percaya kalau mendoakan beliau, doa tersebut juga akan memantulkan ke diri kita sendiri,” ungkap Ust. Muhammad Sholeh selaku Sekretaris LAZIS Sabilillah.
Yang mencuri perhatian selanjutnya ketika di Makam Gus Dur adalah batu nisan makam yang tertuliskan empat bahasa sekaligus Yakni bahasa Indonesia, Arab, Inggris dan China. Beberapa tulisan tersebut mengandung satu arti yakni “Disini berbaring seorang pejuang kemanusiaan (here rests a humanist).” Hal tersebut menandakan Gus Dur sebagai sosok yang sering membela minoritas baik agama maupun ras kala menjabat sebagai presiden ke-empat.

“Perjuangan Gus Dur menjadi contoh semangat kemerdekaan kita untuk terus menjunjung tinggi arti toleransi baik yang beda ras, suku, maupun agama,” tambahnya.
Sebelumnya, LAZIS Sabilillah bersama Forum TPQ Yayasan Sabilillah (FORTYS) dan Forum Imam dan Takmir Musholla melaksanakan program Ziarah Wali dan Studi Banding ke PP Madrasatul Quran Tebuireng, Jombang. Mereka belajar tentang bagaimana metode pengajaran Quran dan Tanfidz yang baik dan benar.
Selain ke Jombang, mereka juga bertolak ke Lamongan untuk mengunjungi Makam Syeikh Maulana Ishaq. Sebelum itu, rombongan juga mampir ke Masjid At-Taqwa, Lamongan untuk melihat kemegahan kuba emas sekaligus arsitektur yang mewah.