Press ESC to close

Sepenggal Kisah Dua Lansia Bertahan Hidup di Lereng Gunung Kawi

LAZIS Sabilillah – Pendengaran sudah terbatas, penglihatan nampak kabur dan untuk jalan saja sudah harus di tuntun. Begitulah sedikit gambaran tentang Mbah Sakrip. Kakek berusia 70 an lebih tersebut adalah salah satu penerima manfaat beras Cinta Lansia LAZIS Sabilillah.

Rumah Mbah Sakrip jauh dari pusat kota. Tepatnya di dusun Sumberdem, di lereng Gunung Kawi Kabupaten Malang. Untuk sampai disana, kita harus melewati beberapa bukit dengan jalan yang berliku. Perjalanan itu, memakan waktu dua jam dari kota Malang.

Setiba di lokasi, kondisi rumahnya sudah lapuk. Dindingnya tidak terbuat dari batu bata, hanya triplek kalsebot. Apalagi lantai rumahnya. Tak ada alas apapun kecuali tanah yang berdiri di rumah tersebut. Padahal, hunian itu terhitung baru saja dibagun oleh warga sekitar.

Rumah itu sangat sederhana bernuansa pedesaan pada umumnya. Hanya ada tiga ruangan. Kamar tidur dengan ranjang yang penyok, ruang tamu bercampur dengan lemari pakainnya dan dapur yang terdapat tungku untuk masak. Kebayang tidak, sempitnya bagaimana?

Meskipun kondisi rumah sudah tidak layak, mbah sakrip ditemani oleh istrinya yang lebih muda beberpaa tahun dengannya. Kabar baiknya, beliau yang mengurusi segala kebutuhan mbah Sakrip, mulai dari makan, ganti pakaian, hingga mandi.

Namun, untuk bisa makan sehari-hari, sang istri harus berkililing kampung untuk mencari sisa kopi yang jatih dari perkebunan (leles). Nantinya, kopi itu dijual 25 rb per kilonya kepada pengepul.

“Kalau setiap hari ya ndak ada sekilo mas,” ucapnya.

Karena itu, untuk makan sehari-hari dirinya hanya mengandalkan pemberian makanan lebih dari tetangga saja. Sebab, untuk mendapatkan 25 ribu saja sudah sulit.

“Mbah Sakrip ini merupakan satu dari dua lansia yang diberi bantuan oleh LAZIS Sabilillah saat ini,” ucap Ust. Sofian Arief pada Kamis (25/8).

Pihaknya memberi 100 kilogram beras tiap lansia yang di titipkan ke toko terdekat. Nantinya, penerima manfaat diberi kelonggaran untuk mengambil selain beras, asalkan bahan pokok tersebut senilai dengan jumlah beras yang diberikan. Dengan harapan beras tersebut mampu mencukupi makanan pokok sehari-hari selama setahun.

Ia menambahkan, program cinta Lansia kali ini, menyusur ke pedesaan yang plosok. Sebab, Ia mengingkan jangkauan penerima manfaat dari LAZIS Sabilillah lebih luas lagi.

“Tidak hanya di kota saja. Daerah wajak, dampit dan beberapa kecamatan kabupaten Malang sudah kia kunjungi untuk kita tebar beras Cinta Lansia,”

Di akhir, tim juga mengunjungi bapak Poniman yang mengidap penyakit menahun yakni stroke di usia yang cukup muda. Dalam kesempatan tersebut, pihaknya memberi santunan uang secara tunai. Dengan harapan, uang tersebut dapat dimanfaatkan untuk berobat dan kebutuhan hari-harinya.