Press ESC to close

Cara Menjadi Pemuda vs Santri Zaman Now dengan Segudang Kebermanfaataan

Kita melihat pandawara group dengan segala aksi bersih sungainya, juga Fiki Naki yang suka aksi berbagi hingga mancanegara. Tolak ukur pemuda yang keren saat ini tak hanya dari penampilannya saja namun, tentang bagaiaman kebermanfaatanya di lingkungan masyarakat. Hari Sumpah Pemuda mengajak kita untuk kembali pada esensi pemuda, yaitu menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat bagi sesama. Kita dapat menjadi pemuda yang bermanfaat di mana saja kita berada, dengan cara yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi kita.   

Dalam pandangan Islam, menjadi pemuda zaman now adalah manifestasi dari upaya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 13 menjelaskan, “Sesungguhnya orang-orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu.”

Ayat ini menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh status sosial atau latar belakang pendidikan, melainkan oleh ketakwaannya kepada Allah SWT. Surat Al-Baqarah ayat 303 juga menegaskan, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan,”

Seperti halnya santri adalah tentang berbuat baik, bertaqwa, dan saling tolong menolong. Hadist Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan kita tentang pentingnya ilmu pengetahuan. Beliau bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah). Hadist ini menunjukkan bahwa semangat mencari ilmu pengetahuan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan seorang muslim, termasuk seorang santri.

Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk mondok di pesantren. Namun, hal itu tidak menjadi penghalang untuk mengamalkan nilai-nilai kesantrian. Menjadi santri bisa dimulai dari lingkungan terdekat. Kita bisa menjadi teladan bagi keluarga, teman, dan rekan kerja. Kita bisa aktif dalam kegiatan sosial dan kemasyarakatan, serta memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan.

Dengan begitu, kita telah menjalankan peran sebagai seorang santri. Yang membedakan seorang santri dengan yang lainnya bukanlah tempat ia belajar, melainkan kualitas spiritual dan moralnya. Seorang santri sejati adalah pribadi yang rendah hati, toleran, dan selalu berusaha untuk memperbaiki diri. Ia memiliki kepedulian yang tinggi terhadap sesama dan lingkungan sekitar.

Peringatan ini menjadi momentum bagi kita untuk mengenang jasa para santri dan ulama dalam memperjuangkan kemerdekaan dan menjaga keutuhan NKRI. Salah satu tokoh yang patut kita teladani adalah KH Masjkur, pendiri Masjid Sabilillah. KH Masjkur bukan sekadar pendiri masjid. Beliau adalah seorang ulama, pejuang, dan negarawan. Melalui Masjid Sabilillah, beliau tidak hanya membangun tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.