
Hari ini umat 12 Robiul Awal 1446 H umat islam sedang bersukacita atas kelahiran Nabi Muhammad Saw. (571 M). Ekspresi perayaan maulid masyarakat muslim di Indonesia pun berbeda-beda. Di antranya dzikir, shalawat, pembacaan buku rawi (buku sejarah kehidupan Nabi Muhammad saw), serta berbagi makanan.
Pahala Super dan On The Way Surga
Bersedekah dengan berbagi makanan kepada tetangga, saudara dan orang miskin juga menjadi anjuran sebagai bentuk rasa syukur kita atas kelahiran Nabi Muhammad Saw.
Imam Syafii secara tegas menganjurkan kita untuk bersedekah dalam kitab I‘anatut Thalibin, juz III halaman 365, bahwa orang yang memperingati Maulid Nabi akan mendapatkan pahala yang besar, bahkan bisa sampai ke surga.
“Orang yang mengumpulkan saudara-saudara untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW, menyediakan makanan, menyediakan tempat, melakukan kebaikan, dan menjadi sebab dibacanya Maulid Nabi, maka Allah akan membangkitkannya di hari kiamat bersama orang-orang yang shalih dan berada di surga,”
Abu Lahab diringankan siksanya setiap senin, karena gembira atas kelahiran nabi
Kita pernah mendengar bahwa suatu hari, tepatnya pada hari Senin, Tsuwaibah datang kepada tuannya Abu Lahab seraya memberikan kabar tentang kelahiran keponakannya, bernama Muhammad. Abu Lahab pun sangat bergembira, seraya meneriakkan kata-kata pujian atas kelahiran keponakannya tersebut sepanjang jalan. Saking gembiranya, ia segera mengundang tetangga, teman-temannya dan para kerabat dekatnya untuk merayakan kelahiran keponakan barunya ini.
Di hadapan khalayak ramai yang mendatangi undangan tersebut, Abu Lahab berkata kepada budaknya Tsuwaibah, ”Wahai Tsuwaibah, sebagai tanda syukurku atas kelahiran keponakanku, anak dari saudara laki-lakiku Abdullah, maka dengan ini kamu adalah lelaki merdeka mulai hari ini.”
Dengan wasilah memerdekakan seorang budak, sebab bergembira atas kelahiran Rasulullah saw, Abu Lahab diringankan siksanya setiap hari Senin. Diceritakan oleh Suhaili bahwa Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bary berkata
Diceritakan oleh Suhaili bahwa Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bary berkata bahwa Ibnu Abbas berkata, ketika Abu Lahab mati, setahun kemudian aku melihatnya dalam mimpi dalam kondisi yang buruk. Ia berkata: aku setelah meninggalkan kalian tidak pernah merasakan jeda istirahat dari siksa, melainkan azab diringankan setiap hari Senin. Abu Lahab menjelaskan: Itu karena saat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dilahirkan pada hari Senin, waktu ia diberi kabar oleh Tsuwaibah atas kelahirannya, maka Abu Lahab membebaskannya (Tsuwaibah).
Abu Lahab saja yang sudah dilaknat oleh Allah Swt. karena membeci Nabi Muhammad rela membebaskan budaknya saat itu. Jika kita kontekskan pada hari ini adalah harta kita. Maka sudah sepatutnya kita juga bergembira atas kelahiran Nabi Muhammad Saw. dengan merelakan sebagian harta kita.
Momentum Refleksi Akhlak Nabi
semangat meneladani perilaku Nabi Muhammad SAW menjadi fondasi kuat bagi umat Islam untuk meningkatkan amal kebaikan pada momen istimewa ini. Perilaku atau sifat yang dapat kita ikuti yakni sifat kedermawanan. Alangkah baiknya kita dapat berbagi rezeki dengan yang membutuhkan. Hal ini juga dapat menumbuhkan sifat empati atau kepedulian terhadap sesama. Berbagi dengan sesama melalui berzakat ini dapat mengajak kita untuk hidup sederhana.
Bulan Rabiul awal atau waktu yang berkah ini dapat menjadi momentum untuk instropeksi dan berbenah diri dengan meneladani sifat-sifat baik Nabi Muhammad SAW. Dengan bersedekah ataupun berbagi rezeki ini kita turut berkontribusi dalam mengurangi kesenjangan sosial di masyarakat. Semoga kita semua dapat menjadi kumpulan umat yang mendapatkan syafaat Rasullullah di hari Akhir nanti. Amin.
Oleh : Erika Febrianti