
Oleh : Yuanda Kusuma
Tanggal 24 Januari 2013 ini kita akan memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw. Umat Islam di seluruh dunia mempersiapkan diri guna menyambut dan memperingati hari lahir Manusia Sempurna & Mulia Saw. tersebut. Pada umumnya, umat Islam akan berkumpul untuk membacakan solawat dan pujian-pujian yang menceritakan perjalanan hidup Beliau saw.
Tapi, pernahkan kita merenung sejenak ? dan mengajukan pertan¬yaan pada diri kita masing-masing :
- Berapa banyak perayaan maulid yang kita hadiri hingga saat ini yang memberikan pe¬rubahan positif pada kehidupan sosial kita?
- Apakah maulid yang kita rayakan telah menjadikan kita individu yang rela berkorban untuk kemajuan dan kemulyaan umat Islam?
- Apakah maulid yang kita lakukan setiap tahun mampu me¬didik ego, nafsu dan pikiran kita menjadi “seperti” ego, nafsu dan pikiran kekasih kita Nabi Mu¬hammad saw? Ego, nafsu dan pikiran yang mencintai persatuan membenci perpecahan, mencintai kemulyaan membenci kehinaan, mencintai kemajuan membenci ket¬erbelakangan, mencintai kebebasan membenci keterjajahan, mencintai keilmuan membenci kebodohan.
Tiga pertanyaan itu sengaja diajukan untuk menghilangkan penyakit “disorientasi”1 dan pe¬nyakit “dislokasi”2 pada konteks perayaan Maulid Nabi Muham¬mad Saw. Agar kita umat Islam tidak terjebak pada seremoni dan rutinitas tahunan ketika memperingati maulid. Tapi lebih fokus ada hakekat, tujuan, fungsi dan gerakan sosialnya. Untuk men¬jawab 3 pertanyaan di atas, mari kita lihat sejarah singkat lahirnya gerakan peringatan maulid serta tujuan dan hikmah diadakannya.
Sejarah Singkat Peringatan Maulid
Terdapat 3 pendapat yang menengarai awal munculnya tradisi Maulid.
Pertama. Al Maqrizy (seorang ahli sejarah islam) dalam bukunya “Al Khutath” menjelaskan bahwa tradisi Maulid pertama kali diada¬kan oleh khalifah Mu’iz li Dinil¬lah, salah seorang khalifah dinasti Fathimiyyah di Mesir yang hidup pada tahun 341 Hijriyah. Kemudi¬an, perayaan Maulid dilarang oleh Al-Afdhal bin Amir al-Juyusy dan kembali marak pada masa Amir li Ahkamillah tahun 524 H. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Al Sakhawi (w. 902 H), walau dia tidak mencantumkan dengan jelas tentang siapa yang memprakarsai peringatan Maulid saat itu.
Kedua. Dalam catatan historis, Perayaan ini dilaksanakan atas usulan panglima perang, Shala¬huddin al-Ayyubi (1137M-1193 M), kepada khalifah agar men¬gadakan peringatan hari kelahiran Muhammad. Guna membangkit¬kan kembali – melalui maulid Nabi Saw – semangat juang umat Islam yang kala itu sedang diserang oleh tentara salib.
Ketiga. Maulid diadakan oleh khalifah Mudhaffar Abu Said pada tahun 630 H yang mengadakan acara Maulid besar-besaran. Saat itu, Mudhaffar sedang berpikir ten¬tang cara bagaimana negerinya bisa selamat dari kekejaman Temujin yang dikenal dengan nama Jengiz Khan (1167-1227 M.) dari Mongol.
TUJUAN PERINGATAN MAULID
Terlepas dari mana yang benar dari 3 pendapat di atas, kita me¬lihat satu kesamaan dalam tujuan diadakannya peringatan maulid kala itu. Kesamaan tujuan terse¬but adalah
Mengembalikan semangat juang kaum muslimin
Membangkitkan semangat umat Islam untuk melawan serangan besar-besaran tentara Salib dari daratan Eropa
Upaya untuk mengenal keteladanan Muhammad Saw.
Mempertebal kecintaan umat Islam kepada Nabi Muhammad Saw.
Melahirkan semangat baru untuk membangun nilai-nilai profetik agar tercipta masyara¬kat islami.
KESAMAAN PROBLEM
Problematika umat Islam pada 3 pendapat awal peringatan maulid di atas memiliki kesamaan dengan probematika umat Islam saat ini. Mereka mengalami perpecahan, pertikaian baik dalam aliran fiqh, aliran pemikiran, aliran tasawuf dan kita pun mengalami hal yang persis sama. Mereka mengalami serangan dan penjajahan dari bangsa lain, kitapun mengalaminya bahkan lebih parah karena bentuk serangan dan keterjajahan kita lebih beragam, mulai dari serangan bu¬daya, pemikiran, ekonomi, politik bahkan serangan fisik seperti yang dialami oleh saudara-saudara kita di palestina.
Intinya, kita memiliki masalah bersama (common problem) dan musuh bersama (common enemy) yang identik dengan apa yang di alami oleh umat Islam dahulu. Apabila kita simpulkan, masalah bersama dan musuh bersama tersebut adalah:
Pecahnya persatuan dan kes¬atuan antar umat Islam
Semangat juang yang melemah
Kebodohan
Kemiskinan
Keterjajahan
Umat Islam dahulu, dengan peringatan maulid Nabi Saw. sanggup menyelesaikan masalah bersama dan terbukti mampu mengalahkan musuh bersama mereka. Kenapa kita saat ini ti¬dak mampu? Adakah yang salah dengan cara kita memperingati maulid? Tidak ada yang salah dengan apa yang telah kita laku¬kan selama ini, tapi, kita perlu melakukan hal-hal baru yang lebih terkoordinir dan terorganisir dalam hal menggerakkan potensi perayaan maulid Nabi guna me¬nyelesaikan masalah kita bersama dan musuh kita bersama.
BAGAIMANAKAH KITA SEHARUSNYA
MEMPERINGATI MAULID?
Pertama. Pimpinan majlis maulid menyadarkan, membimbing serta mengajak umatnya untuk menyepakati bahwa kita semua sedang memiliki musuh dan masalah bersama seperti yang tertera di atas.
Kedua. Pimpinan majlis maulid mengajak umatnya untuk memilih salah satu dari lima hal di atas untuk diselesaikan dengan cara mengam¬bil satu teladan dari akhlak mulia Nabi Muhammad Saw. ambil satu contoh masalah kemiskinan. Maka akhlak mulia Nabi yang diteladani untuk memerangi masalah tersebut adalah gemar bersedah dan berin¬faq di jalan Allah. Umat yang ha¬dir pada peringatan Maulid diajak untuk langsung meneladani dalam bentuk aksi sedekah dan infak saat itu juga. Setelah terkumpul dana sedekah dan infaq, pimpinan majlis maulid bekerjasama dengan lembaga amil zakat yang terpercaya guna menyalurkan dana tersebut.
Ketiga. Pembacaan Solawat dan Doa sebagaimana yang biasa kita lakukan.
Menurut hemat kami, jika seluruh majlis maulid melaku¬kan hal tersebut, niscaya tingkat kemiskinan akan segera menurun dan kesejahteraan akan segara dapat terwujud di Indonesia. Dan masalah lemahnya persatuan dan kesatuan, lemahnya semangat juang dan masalah-masalah sosial umat Islam lainnya akan dapat segera teratasi.
Semoga kita semua mendapat¬kan berkah dan syafa’at Nabi Muhammad Saw.